Mengisi liburan anak dengan aktivitas Kecerdasan Pribadi yang bermanfaat.
- Untuk anak-anak usia 2 s.d 19 tahun
- Mulai: 14 Juni s.d 10 Juli 2012
- 16x pertemuan, 2jam per pertemuan
- Hari: Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Discount 25% untuk pembayaran yang dilakukan selama bulan Mei 2012
Mengapa Kecerdasan Pribadi?
http://myyemayo.blogspot.com/p/tentang-yemayo.html
Para pakar pun bertanya, bagaimana anak-anak itu bisa berubah secara positif? Atau, bagaimana anak-anak itu menjadi semakin berprestasi dan gembira?
http://myyemayo.blogspot.com/p/para-pakar-merekomendasikan-yemayo-aec.html
Yemayo Advance Education Center
Satu-satunya di Indonesia... Kursus Pengasahan Kecerdasan Pribadi (usia 2 s.d 19 tahun) 12 tahun bahkan lebih, kita bersekolah untuk mempertajam Kecerdasan Intelijensia yang berperan 20% di dalam kehidupan kita. Lalu mengapa Kecerdasan Emosi yang berperan sebanyak 80% tidak secara fokus diasah dengan terarah? Itulah mengapa, bahkan di jaman modern & penuh tantangan ini Kecerdasan Pribadi penting dilatih secara konsisten.
Pribadi Cerdas Bahagia dan Sukses adalah Komitmen Kami...
Friday, May 18, 2012
Friday, March 30, 2012
POSTING BARU - 31 Maret 2012
1. Halaman Baru: Kecerdasan Pribadi: http://myyemayo.blogspot.com/p/kecerdasan-pribadi.html
2. Testimoni-testimoni baru:
Sejak kursus di Yemayo, Joshua lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam membagi waktu untuk belajar dan bermain, sehingga nilai di sekolah mengalami peningkatan. Secara emosi juga lebih baik. Terimakasih kepada coach yang mengajar dan sudah membantu Joshua. (Joshua’s mom) – 22/3/2012, coach Heppy
Perubahan Darien ada pada perilaku dan hasil ulangan. Ada cara bicara yang masih perlu diarahkan. Saya senang hasil ulangannya ada peningkatan di bandingkan 3 bulan yang lalu. Guru sekolahnya berkata perilakunya pun ada perubahan. Ia suka bermain namun juga bertanggung jawab dengan pelajaran-pelajarannya apalagi pelajaran matematika. Darien lebih mau mendengarkan. (Papi Darien) – 22/3/2012, coach Singgih
Sekarang Aditya sudah agak fokus dibandingkan dahulu. Kosa katanya sudah banyak meski lafalisasinya masih kurang. Sudah dapat diajak berkomunikasi 2 arah dan kontak mata pada saat berkomunikasi sudah banyak kemajuan. Sudah dapat berhitung dan di rumah sudah mulai senang menyanyi lagu anak-anak. (Mama Aditya) – 23/3/2012, coach Minda
Rexwald sekarang much better. Diajak ngobrol juga sudah mau melihat. Mulai keluar suara sejak ikut Yemayo. Nyanyi paling suka. Untuk selanjutnya saya ingin Rexwald lebih sering diajak berkomunikasi. Biar ada atau bisa berkomunikasi dua arah. Thank you, coach. Sangat bagus sekali! (Mama Rexwald. Rexwald berusia 3 tahun) - 19/3/2012, coach Angel
Mama Keisha berkata bahwa ada perubahan positif dari putrinya selama kursus di Yemayo sejak Januari 2012, yaitu: sudah mulai mau berbicara, mengikuti kata-kata, sudah mulai berceloteh, bisa bernyanyi beberapa lagu. Secara lafalisasi memang masih belum begitu jelas, tapi papa-mama Keisha percaya Keisha akan semakin banyak kemajuan. (Pembicaraan dengan mama Keisha. Keisha berusia 2 tahun) – 17/3/2012, coach April
Saat baru masuk Yemayo, Shane anak saya masih suka menangis karena takut berpisah dengan mamanya. Setelah 1 bulan bergabung, dia mulai tidak menangis. Bahkan sekarang cukup diantar sampai pintu masuk. Dia mulai suka ke Yemayo. Ada inisiatif, “mau ke sekolah dulu” katanya. Terimakasih Yemayo. (Mama Shane. Shane berusia 2 tahun) – 16/3/2012, coach Minda
Testimoni selengkapnya: http://myyemayo.blogspot.com/p/testimoni_08.html
Sunday, March 25, 2012
Zola dan Lagu
![]() |
| Aprilia Ebtiani Amd (Coach) |
Sebutlah Zola , gadis cilik yang enggan bertemu dengan orang-orang. Untuk membujuknya bergabung dengan teman-temannya dalam suatu kegiatan saja sangat sulit dan membutuhkan kesabaran. Mungkin karena Zola bertubuh paling kecil di antara teman sekelasnya yang rata-rata lebih besar dibandingkan dirinya, sehingga Zola cenderung menarik diri dari teman-temannya. Tak jarang Zola pun menangis bahkan suatu hari aku mendapat kabar bahwa Zola tidak mau masuk kelas dan ibunya nyaris putus asa membujuknya. Namun aku berusaha meyakinkan ibu Zola agar tidak putus asa membujuknya datang ke kelas lagi. Syukurlah, ibu Zola pun masih mau membujuk Zola dan bujukannya berhasil.
Aku ingat suatu hari saat aku memutar sebuah lagu, memutar lagu memang adalah kegiatan rutin awal kelas, namun kali itu aku melihat Zola tampak bersenandung kecil mengikuti lagu dan iramanya. Rupanya Zola sangat menyukai lagu itu. Saat melihat hal itu, aku mulai mengerti bagaimana mendekati Zola. Yah! Setiap anak memang unik, dengan demikian, pendekatannya pun memang tidak bisa semua disamakan.
Keesokan harinya aku mendekati Zola dengan cara mengajaknya bernyanyi bersama dengan teman-teman sekelasnya sebelum kami melakukan kegiatan rutin belajar-bermain. Lagu Zola kuputar 2x pada hari itu. Awalnya, Zola tampak enggan dan malu-malu namun lama-kelamaan ia mulai menikmati kegiatan bersama kami, dan sampai sekarang, bernyanyi dan bermain adalah kegiatan yang ditunggu oleh Zola. Walaupun demikian, lagu yang dipakai sudah berganti-ganti, Zola tampak sudah nyaman dengan rutinitas bergerak mengikuti lagu sebelum masuk ke kelas tersebut, ia tak lagi harus dibujuk dengan satu lagu kesukaannya saja. Ia sekarang juga tidak merasa takut atau enggan pada teman-teman dikelasnya ataupun pada orang-orang yang baru dijumpainya di Yemayo. Kini Zola sudah bisa mengikuti setiap kegiatan dengan baik tahap demi tahap. Juga sangat menggembirakan karena kini Zola sudah berani berangkat sendiri tanpa ibunya, hanya ditemani oleh sang pengasuh. “Zola selalu berangkat sekolah dengan gembira,” kata sang pengasuh.
-Coach April
Tuesday, March 20, 2012
Konsistensi Melatih
“Coach, selamat pagi! Maaf, ya, coach, saya terlambat lagi”, demikian kata Dannny setelah masuk ke kelas. Saya yang sedang mengajar, kaget dengan kehadiran Danny yang kalau dihitung sudah terlambat 30 menit.
“Hmmm,... Danny, kalau coach boleh tanya, kenapa Danny belakangan ini sering sekali terlambat?”, tanya saya menahan langkah Danny untuk duduk.
‘Maaf, coach, tadi supir saya terlambat, padahal saya sudah siap dari pukul 08.00,’ kata Danny membela diri.
“Sabtu minggu lalu kenapa terlambat juga?” Tanya saya kembali. “Sama coach, supirnya terlambat juga”, kata Danny dengan entengnya.
“Oh, OK, Danny, bagaimana hari Sabtu depan, apakah masih akan terlambat lagi? Kita perlu buat kesepakatan untuk hal ini, Danny.” Kata saya dengan suara tegas.
“OK, coach, tapi saya mau beritahu teman-teman dulu ini bahwa ada bermacam-macam lomba di sekolah saya, mereka harus ikut !” Kata Danny sambil memperlihatkan selembar brosur di depan kelas untuk teman-temannya .
“Ada lomba, Danny?” Tegur saya melihat sikap Danny yang tidak mengacuhkan perihal apa yang sedang sementara saya bicarakan dengannya itu.
“Sebentar coach, saya sedang memberitahu teman-teman.” Kata Danny tanpa melihat ke saya dan terus berbicara di depan kelas.
“Danny, kita masih sedang bicara.” Kata saya sambil mendekatinya dan saya memintanya duduk.
“Tunggu coach, saya mau ...,’
“Tidak Danny! Danny sudah terlambat, dan pembicaraan Danny dan coach belum selesai, pantaskah Danny bersikap demikian?” Tanya saya tegas.
“Apakah Danny sudah minta ijin ke coach untuk memberi pengumuman?” Tanya saya kembali.
“Maaf sekali ya, coach.” Jawabnya. Walau ia meminta maaf namun tampak ia kurang memahami serangkaian peristiwa yang baru terjadi tersebut, ia terlihat sangat antusias ingin mengajak teman-temannya mengikuti lomba tanpa menghiraukan pembahasan tentang keterlambatannya yang sedang dipermasalahkan oleh saya sebagai coach-nya.
Danny adalah salah satu murid yang berusia 15 tahun yang berperilaku kurang sopan dan memiliki sikap yang keras namun sebenarnya ia seorang anak yang cerdas. Sikap seperti inilah yang sering membuat beberapa teman-teman sekelas Danny kurang menyukainya walaupun tidak secara langsung mereka ungkapkan di depan Danny tapi sikap mereka bisa terlihat kalau mereka tidak suka berteman dengan Danny. Setiap kali berlatih, selalu saja ada ulahnya yang membuat teman-temannya enggan mendekatinya. Belum lagi, Danny senang sekali menggurui teman-temannya yang terlihat melakukan kesalahan. Jika coach menegur temannya yang salah, Danny ikut-ikutan dan kadang juga menggunakan kata-kata yang kasar.
Beberapa kali saya berusaha berbicara berdua dengan Danny ataupun saya tegur langsung di hadapan teman-temannya jika Danny mulai berulah namun Danny tidak mau mendengar apa yang saya sampaikan .
Suatu kali saat Danny mulai menggurui temannya, saya langsung bertanya, “Danny, sudah berapa kali coach menegur Danny tentang hal ini?” Apakah coach meminta Danny untuk menegur teman-teman di kelas?” Tanya saya dengan tegas. Awalnya Danny sempat terdiam mendengar pertanyaan saya, tapi kemudian wajahnya agak cemberut dan diam. Saya tidak mau berhenti sampai disitu saja, saya berjalan menuju tempat duduk Danny dan saya mulai berbicara kembali.
“Danny, apakah tadi temannya berbuat salah kepada Danny?”
“Tidak coach!”’ Jawab Danny dengan suara pelan.
“Apakah teman Danny memarahi Danny?”
“Tidak, coach!” Jawab Danny sambil menunduk.
“Bagaimana perasaan Danny jika temanmu memarahimu padahal Danny tidak melakukan kesalahan kepada temanmu itu?” Tanya saya masih dengan nada suara yang tegas. Danny terlihat diam saja namun saya masih tetap berdiri di hadapannya dan sabar menunggu jawaban Danny atas pertanyaan saya tadi.
“Jadi, apakah jawabanmu, Danny?” Tanya saya kembali.
“Maaf, coach, saya salah, tindakan saya tidak benar, saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan saya itu.” Kata Danny dengan suara pelan, tapi kali ini tersirat nada penyesalan didalamnya.
“Maaf ya teman-teman kalau selama ini saya membuat teman-teman kesal. Saya janji akan bersikap lebih baik lagi.” Kata Danny. Kali ini Danny membuat saya terkejut, sudah berkali-kali hal seperti ini saya tegurkan padanya, tetapi tampak teguran-teguran saya berlalu begitu saja. Namun hari ini, saya terkejut bahwa ia menyadari perilakunya yang tidak baik itu dan langsung meminta maaf pada teman-temannya. Hari-hari berikutnya, Danny memang benar-benar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Inilah salah satu esensi “coaching” (melatih), seorang pelatih tak boleh segan untuk mengingatkan dan mengkomunikasikan hal-hal baik yang seharusnya diingat oleh seorang anak (pribadi). Teguran itu sangat perlu tetapi harus dibawakan dalam pembicaraan sebab akibat yang membuat anak berpikir bukan suatu nasihat panjang-lebar yang membuat anak malas mendengarkan. Ketika satu atau dua kali anak belum mendengarkan, coach tak boleh pernah jenuh untuk memberi teguran tanya-jawab itu untuk yang kesekian kalinya. Memang ada pribadi yang bisa diberi satu kali teguran, namun ada juga pribadi-pribadi yang harus diberikan teguran berkali-kali. Untuk pribadi yang perlu diberikan teguran berkali-kali, seorang coach tidak boleh memercayai bahwa pribadi itu ‘jahat’ atau ‘tidak bisa berubah’ lagi. Terkadang, ada hal-hal dimana kita perlu sabar ‘menunggu waktu’ agar anak bisa merasakan pengalamannya, memikirkannya, menyimpulkannya… Yang tetap perlu kita lakukan sebagai pelatih hanyalah tetap konsisten memberikan pelatihan dan tidak terpancing secara emosi jika hasil saat itu belum sesuai seperti yang diharapkan.
-Angel Siahaya SH
Friday, February 24, 2012
Sebenarnya Mau Ibu Apa?
Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja... Setelah dimarahi, eh! Dia sudah tidak baca komik, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh... masakan...”
”Jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraannya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya kesal karena saya bertanya demikian.
“Dirimu sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.
“Aku benci kehamilanku yang pertama...” Sahut ibu itu sambil tertunduk. Oh! Ternyata, ada masa lalu yang harus didamaikan, kata hati kecil saya. Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban kelabilan orangtua. Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masa lalunya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kelabilan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Catatan Ibu
Sejak kerap berbicara lama di telepon, kutahu seorang gadis telah merebut hatimu. Kue kesukaanmu yang kubuatkan untukmu kini tak banyak kaumakan.
Berat kini hatimu menemaniku pergi berbelanja, tak lagi seperti dulu saat kuajak pergi kau melompat kegirangan dan berceloteh sepanjang jalan.
Ada saja alasanmu menolak ajakanku pergi. Mulai terasa sepi pula bepergian sendiri tanpamu, sayang.
Ketika kulewati toko-toko mainan itu, kuingat dulu kau selalu membuatku berhenti dan membelikanmu sebuah mainan; senapan, mobil-mobilan, kapal-kapalan.
Tapi kini aku tak harus lagi berhenti di sana, karena kau bukan lagi seorang bocah yang mudah disenangkan hatinya dengan mainan-mainan itu.
Saat kecilmu, kau selalu menarik tanganku ke tempat tidurmu meminta aku membacakan buku-buku kesayanganmu; walau kuterkantuk, kubacakan untukmu.
Kini... bahkan saat kumelihatmu dari luar, kau segera menutup kamarmu tak ingin bicara denganku. Telah ada hal-hal pribadimu yang kini harus kuhormati.
Saat ingin kuajak kau bicara, tentang hal sekolahmu atau kegiatanmu sehari-hari, kau menjawabnya setengah hati. Namun jika teleponmu berbunyi?
Wajahmu berubah riang. Dari seorang yang tampak tak punya kata-kata untuk berbicara denganku, tiba-tiba kau begitu fasihnya berbicara dengan gadis pujaanmu.
Aku tidak sedang cemburu, sayang. Aku pun pernah muda dan jatuh cinta. Aku hanya rindu masa-masa di mana kau begitu dekat denganku.
Masa-masa itu, sering kau buat aku bingung dengan teriakan-teriakanmu, berlarian ke sana kemari. Masa itu aku pernah menginginkan kau segera saja jadi dewasa.
Saat ini... aku sungguh rindu bocah kecilku yang aktif bermain, yang setelah kelelahan dan masih berkeringat kau sandarkan kepalamu padaku dan tertidur.
Anakku sayang sudah beranjak dewasa kini. Ibu tak bisa terlalu mendekat lagi dan kau pun tak ingin terlalu mendekatku lagi. Tidak mengapa...
Aku bersyukur pada TUHAN untuk hari-hari yang kulewati denganmu, kau adalah anugerah-NYA yang terindah. Ingatlah sayang, saat kesulitan, ibu ada di sini untukmu.
Tak mungkin ibu kan selalu dapat mendampingimu dari dekat; untuk itulah, setiap hari, tak putus kusebutkan namamu di dalam doaku.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg
Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Catatan ayah...
Twitter keluarga 24, 25 November 2011
24 November 2011
Hari ini ingin kuberikan catatan-catatan seorang ayah yg indah namun mengharukan.
Ketika anak perempuanku akan melanjutkan study-nya jauh dari kotaku, hatiku gelisah, tp mengingat masa depannya; kurelakan ia pergi.
Wajahnya antusias, matanya ber-binar2.. Seandainya ia tahu, berat sungguh hatiku melepasnya. Ia memeluk & menciumku, ucap salam perpisahan.
Kupandangi ia beranjak pergi.. Ia bukan lg si mungil yg belepotan saat makan es krim yg meminta aku menyeka mulutnya..
Ia bukan lagi si mungil dulu yg menengadahkan kedua tangannya meminta aku menggendongnya krn ia sdh lelah berjalan..
Ia tidak lagi menungguku pulang sampai terkantuk utk membantunya membuat PR Matematika...
Ia tidak lagi menemaniku memancing, yg menangis melihat ikan pancinganku menggelepar & memaksaku pulang..
Ia tidak lagi membuatku mencoba masakan pertamanya, yg rasanya membingungkan namun tetap kupuji hingga ia memberiku sepiring lg.
Ketika ia memberitahukan nilai rapot & ijazahnya yg bertaburkan angka 9 itu, bangga sekaligus sedih mendera. Kutahu apa yg akan dimintanya.
Yaitu ijin melanjutkan study-nya di kota itu. Oh, putri cantikku, andai kautahu betapa besar khawatirku, betapa tdk ingin aku mengijinkan..
Dan betapa besar rasa rinduku kelak tanpa hadirmu.. Tapi, ini bukan ttg aku, ini ttg engkau menjadi wanita mandiri. Berat hati kuijinkan..
Pergilah, putri cantikku, gapailah cita2mu. Dan ENGKAU yg kuasa, jagalah putri cantikku senantiasa, luruskan & mudahkan jalannya.
Aku yg tak rajin bertelut & penuh logika ini.. tak berdaya & hanya mampu memohon padaMU. Jagalah putriku, kumohon, jagalah ia, TUHAN.
25 November 2011
Hari ini putri cantikku siap menempuh hidup barunya dgn seorang pria pilihannya. Ia memegang tanganku gelisah.
'Ayah, apakah ia akan menjagaku sebaik ayah menjagaku?' Tanya putriku. Aku tercengang.
Aku laki2 yg penuh ego, sejenak berpikir. Seketika itu aku bertanya dlm hatiku, bahagiakah istriku hidup dgnku?
Terlintas hari2 sulit dimana pertengkaran2 sebabkan istriku menangis krn kerasnya hatiku. Terlintas, mungkin putri cantikku kan alami itu.
Dan jika pria yg akan dinikahinya itu menyebabkan sulit hidup putri cantikku.. Jangan! Jangan sampai pria itu menyakiti ia yg kusayangi.
'Ayah.., jawablah ayah. Apakah ia akan menjagaku sebaik ayah menjagaku?' Tanya putriku memohon aku menjawab.
Tapi banyak juga masa2 indah kulalui dgn istriku. Sampai pd hari ini, aku mensyukuri hidupku yg telah memberikan pasangan yg sabar & setia.
Sungguh tidaklah mudah. Tetapi jika sepasang kekasih itu mau belajar & saling membahagiakan, niscaya rumahtangga itu kan semakin kokoh.
'Ayah tdk tahu jawabannya, sayang. Tapi kau berhati lembut & tegar seperti ibumu.' Jawabku sambil menurunkan slayer penutup mukanya.
'Kalian dapat saling menjaga jika mau mengalah.' Lanjutku.. 'Doakan aku, ayah.' Kata putriku dari balik slayernya. Ia tampak sangat cantik.
Inilah putriku yg akan mengarungi hidup barunya. Putri kecilku yg telah menjadi wanita dewasa..
Saat ia kecil dulu, jk mendengarnya sakit, entah dimana kuberada, aku kan datang ter-gesa2 utk berada di sampingnya sampai turun demamnya.
Jika ia alami kesulitan2, aku ingin selalu berada di sampingnya tanpa nasihat. Kami ber-nyanyi2 sambil membicarakan bintang2 di langit.
Akan mampukah pria pilihannya mendampingi putriku seperti aku selalu berusaha ada untuknya? Hatiku gelisah bukan kepalang.
Sesak rasanya dada ini. Jgn ada yg sakiti putri cantikku.. Terdengar janji pernikahan diucapkan. "Oh TUHAN, berikan putriku hidup yg baik."
Follow Twitter: @Yacinta_Senduk
Add BB Pin Yemayo-AEC: 2736346A
Fanpage Facebook: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Tulisan keluarga: www.yacintasenduk.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)








